Skip navigation

Perajin rambut palsu mulai kehilangan pasar asing karena krisis global. Mereka pun dituntut lebih kreatif, mengembangkan pasar domestik
R uangan berukuran 10 x 20 meter itu berantakan. Untaian rambut berserak di mana-ma na. Lantai keramik putih tertutup helaian rambut yang berserakan, entah potongan rambut siapa. “Kerajinan kami memang semuanya dari limbah,” ujar Ngudiyono, perajin rambut palsu di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, kemarin.

Menurut pria 50 tahun ini, kerajinan rambut palsu di desa tersebut memang memanfaatkan limbah, baik yang sintetis maupun rambut asli. Dari limbah tersebut, diproduksilah wig (rambut palsu), bulu mata palsu, rambut untuk hair extension, sanggul, cemara, dan lain-lain.

Para perajin mendapatkan limbah rambut dari salon kecantikan, juga dari pemulung. Sebelum krisis global yang saat ini masih terjadi, bahan baku rambut tersebut dihargai Rp 400 ribu per kilogram “Sekarang bahan baku sedang murah, kami membelinya Rp 280 ribu per kilogram,” kata Ngudiyono, yang mengaku hanya lulusan sekolah dasar.

Setiap bulan mereka bisa menghabiskan 5 ton bahan baku rambut. Untuk masalah bahan baku, mereka tak pernah kesulitan.

Namun, kini rupanya mereka harus menghadapi kesulitan: mencari pasar. “Selama ini mereka menjual produknya kepada kami. Sedangkan pesanan saat ini sedang turun hingga 50 persen,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Purbalingga, Saryono.

Seorang perajin lain, Eko Setiawan, menyatakan selama ini tidak semua perajin memproduksi rambut palsu hingga proses penyelesaian akhir. Pria 28 tahun ini mengatakan, di antara 200 perajin rambut palsu di Karangbanjar, hanya lima perajin yang mampu membuat rambut palsu hingga proses akhir. Sisanya hanya membuat barang setengah jadi atau disebut perajin plasma. Mereka inilah yang selama ini menjual produknya ke perusahaan Korea Selatan. “Saat ini perusahaan Korea sedang kesulitan ekspor, perajin jadi terkena imbasnya,” kata Eko.

Dulu, sebelum krisis, kata Eko, perajin setengah jadi mampu memproduksi satu ton tiap bulannya. Sekarang mereka hanya memproduksi tiga kuintal saja. Itu pun jika ada pesanan.

Menurut Eko, setidaknya ada 26 ribu perajin plasma di Purbalingga, dan mereka terancam kolaps karena selama ini hanya mengandalkan perusahaan Korea untuk menam pung produksi mereka.

Namun, perajin seperti Ngudiyono, yang non-plasma atau produksi barang jadi, tak begitu terpengaruh oleh krisis global ini. “Selama ini kami memang fokus menggarap pasar lokal. Pasar ekspor hanya sampingan,” kata perajin yang mengaku gemar membaca buku-buku motivasi tersebut.

Menurut spesialis pembuat sanggul, Imam, untuk pasar domestik, selama masih ada orang menikah, usahanya tak bakal gulung tikar. “Justru sekarang sedang bergairah, karena bahan baku sedang murah,” katanya.

Para perajin mengaku optimistis kerajinan mereka bisa bertahan dari terpaan badai krisis. Saat ini mereka hanya mengeluhkan susahnya mendapatkan modal dari dunia perbankan. “Padahal omzet saya dalam sebulan bisa mencapai Rp 200 juta,” kata Ngudiyono.

Terkait dengan permasalahan yang dihadapi perajin rambut dan bulu mata palsu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Purbalingga mengatakan akan membantu perajin plasma lepas dari kebangkrutan. Ia membe narkan, sepinya usaha rambut palsu saat ini karena terpengaruh pasar perusahaan Korea yang sedang lesu. “Pertama yang akan kami lakukan adalah menyelamatkan perajin mikro dan plasma yang jumlahnya ribuan,” katanya.

Selain itu, menurut Saryono, Asosiasi Pengusaha Indonesia Purbalingga akan berusaha mencari pasar baru.

K erajinan rambut palsu di Purbalingga merupakan usaha turuntemurun. Perajin sekarang meru pakan generasi ketiga. Menurut seorang perajin, Ngudiyono, kerajinan rambut palsu pertama kali populer di Desa Karangbanjar pada sekitar tahun 1970. Saat itu mereka membuat rambut palsu setengah jadi yang diekspor ke luar negeri. “Saat itu, dengan modal Rp 1 juta, bisa mendapatkan hasil Rp 20 juta,” kata Ngudiyono.

Adalah trio perajin, Sunarji, Hadi Martoyo, dan Guderi, yang mulai merintis kerajinan tersebut. Ketiganya kondang sebagai perajin yang sukses pada zamannya.

Kerajinan rambut palsu Purbalingga sempat mati suri selama 10 tahun. Penyebabnya, kata Ngudiyono, di dunia mulai banyak kompetitor yang menawarkan produk sejenis dengan harga lebih murah.

Pada awal 1980-an usaha mereka bangkit kembali. “Saya termasuk perajin generasi kedua yang mulai membangun usaha ini lagi,” ujar Ngudiyono.

Dengan modal Rp 22.500, ia bersama Surip dan Imam mulai merintis usaha turun-temurun itu. Berkat kerja keras dan ketelatenan, usaha itu pun mulai menggurita. Saat ini sedikitnya 26 ribu perajin ikut terlibat dalam usaha padat karya tersebut.

Pada 1985, pengusaha Korea mulai masuk Purbalingga setelah mendengar kualitas kerajinan rumahan rambut palsu Purbalingga tergolong baik. Saat ini setidaknya ada 18 perusahaan asing yang beroperasi di Purbalingga.

Eko Setiawan, 28 tahun, termasuk generasi ketiga perajin rambut palsu. Meski hanya lulusan SMA, ia rajin berselancar di Internet untuk melihat tren mode rambut dunia dan harga pasarnya. “Jika ada mode terbaru, saya butuh waktu 3-4 bulan untuk membuatnya,” katanya.

Pada 2006, usaha Eko pernah maju pesat. Gara-garanya, saat itu mode rambut sedang jadi tren dengan penyanyi Krisdayanti yang menggunakan rambut palsu. “Saat itu produk luar harganya mencapai Rp 280 ribu. Kami berani jual Rp 80 ribu,” ia menambahkan.

Eko mengatakan usahanya bisa tetap bertahan karena terus menciptakan kreasi baru. Selain itu, dunia maya dikatakannya banyak membantu usahanya. “Jelas generasi kami berbeda dengan generasi ayah saya,” ujarnya.

ARIS ANDRIANTO

One Trackback/Pingback

  1. […] Read more: Kerajinan Rambut Palsu Purbalingga Tak Terpengaruh Krisis […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: