Skip navigation

Kalau Belum Menang, Saya Belum Boleh Pulang

Kompleks rumah dinas Bupati Kebumen seluas tiga hektare itu tak lama lagi akan berganti penghuni. Rustriningsih, sang bupati yang telah menempati rumah itu sejak delapan tahun silam, “naik pangkat” menjadi orang nomor dua di Jawa Tengah mendampingi Bibit Waluyo sang gubernur. Pasangan ini baru saja menang dalam pemilihan kepala daerah pekan lalu.

Karier Rustri mengkilap sejak bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Perempuan Kebumen kelahiran 3 Juli 1967 itu terpilih dua kali sebagai bupati di daerah kelahirannya yang terdiri atas 460 desa.

Di masa pemerintahannya, Rustri merampungkan beberapa proyek infrastruktur seperti Jembatan Karangbolong, pembangunan jalur selatan-selatan di Kabupaten Cilacap dari Patimuan-Sidareja-Jeruklegi sepanjang 58,95 kilometer dengan lebar 4-5 meter, serta jalur Adipala Cilacap-Bodo sepanjang 28,3 kilometer dengan lebar 5 meter.

Rustri membuka komunikasi langsung dengan penduduk Kebumen melalui sebuah acara di televisi lokal, dan menyampaikan kebijakan-kebijakannya kepada bawahannya hingga di tingkat rukun tetangga melalui surat elektronik. Semua kesibukan ini membuatnya sering kehilangan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ketiga anaknya.

Apa yang akan dilakukannya setelah menjadi wakil gubernur? Tempo bersamanya seharian, Kamis pekan lalu.

Pukul 05.00 Rumah Dinas Bupati, Jalan Mayor Jenderal Soetoyo

Hari masih temaram. Tak tampak kegiatan di rumah dinas bupati yang letaknya persis di utara alun-alun Kebumen, di belakang pendapa kabupaten. Penjaga keamanan dan ajudan masih tidur, tapi nyonya rumah, Rustri, sudah bangun dan memulai harinya dengan salat subuh.

Rustri terbiasa bangun lebih awal dibanding seisi rumahnya. Meski begitu, bukan berarti ia tidur lebih awal. Malam harinya, kata Rustri, ia berkaraoke dengan bawahannya hingga lewat tengah malam. Karaoke adalah agendanya saban malam Kamis. “Untuk konsolidasi dan membahas masalah secara informal,” ujarnya.

Setengah jam kemudian, Rustri siap bekerja. Ia berpakaian dan berdandan sendiri di kamar tidur seluas 5 x 5 meter yang merangkap sebagai ruang kerja itu. Rustri mengaku tak pernah ke salon, kecuali ada acara yang benar-benar resmi.

Nggak pernah pergi ke salon, yang penting pede aja,” ujar Rustri yang hari itu berbusana muslim warna abu-abu dipadu sepatu pantofel hitam. Rustri merasa tak perlu bantuan salon untuk mengisi acara Selamat Pagi Bupati di studio Ratih TV pagi itu.

Sebelum berangkat ke studio, Rustri menyempatkan diri menandatangani sejumlah dokumen. Tumpukan berkas yang harus ditangani Rustri tak hanya ada di meja kerja dalam kamar tidurnya, melainkan juga di meja depan pintu samping di ruang tengah.

Ruang tengah itu hampir seperti kantor kedua. Selain menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana, Rustri juga kerap menerima stafnya di ruangan yang salah satu sudutnya dihiasi beberapa tangkai bunga sedap malam yang meruapkan wangi khas.

Tiga hari sekali, bunga di sudut itu diganti dengan yang baru. Rustri penggemar fanatik sedap malam, selain melati dan cempaka putih. “Mungkin karena wanginya. Kebetulan, warnanya putih semua. Ada nggak ya, sedap malam yang pink?” Rustri bergumam sembari mengernyitkan keningnya.

Pukul 06.00 Studio Ratih TV dan IN FM, Jalan Kutoarjo

Acara Selamat Pagi Bupati di televisi lokal itu diandalkan Rustri sebagai media untuk berkomunikasi dengan 1,2 juta penduduk Kebumen sejak Maret 2003. Tema pagi itu tentang kemenangan Rustri pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah. Beberapa penelepon mengucapkan selamat dan menyampaikan harapan mereka kepada Rustri.

“Dialog seperti ini sangat penting bagi saya karena bisa mendengar langsung keluhan dan masalah masyarakat Kebumen,” katanya. Ia mencatat semua masukan dan mencoba mencari solusinya. “Saya hanya ingin membangun semangat transparansi.” Dalam acara tersebut, biasanya Rustri selalu menganjurkan masyarakat agar terlibat dalam pembangunan Kebumen. “Awalnya acara itu ditanggapi miring, tapi kini banyak yang berbalik sikap,” ujar Rustri.

Boleh jadi, Rustri merupakan salah seorang bupati yang tidak “gaptek” alias gagap teknologi, karena ia terbilang rajin mengirim surat elektronik sampai ke tingkat RT. Surat itu berisi sosialisasi kebijakan dan informasi yang patut diketahui masyarakat.

Pukul 07.15 Rumah Dinas Bupati

Sepulang dari Ratih TV, anak-anak Rustri belum bangun. Maka, mantan anggota DPR RI 1999-2000 itu sarapan sendirian. Roti bukanlah pilihannya. Ia lebih suka makanan seperti ketela pohon atau umbi-umbian, kacang, dan pisang kepok rebus. Seusai sarapan, Rustri melanjutkan pekerjaan memeriksa sejumlah proposal.

Sekitar 15 menit kemudian, anaknya terbangun. Rustri punya tiga anak, dua anak kandung dan satu anak angkat. Indra Fahmi Mahendra diangkatnya ketika baru berusia tiga bulan. Mahe–begitu bocah lima tahun itu biasa dipanggil–diangkat ketika Rustri belum menikah. Ia merasa iba melihat Mahe karena ibu kandungnya meninggalkan dia di rumah sakit di Bandung akibat tak mampu membayar biaya persalinan.

Dari suaminya, Soni Achmad Saleh Ashari, yang berdarah Makassar, Rustri dikaruniai Muhammad Alif Daneswara, 3 tahun, dan Shabira Hemalianingsih, 5 bulan. Jika Rustri sibuk, ketiga anaknya ia titipkan kepada saudara-saudaranya. “Saya lebih percaya kepada saudara ketimbang mempekerjakan pengasuh anak,” katanya.

Meski begitu, Rustri berusaha menyempatkan diri untuk menyapa anak-anaknya melalui telepon, termasuk mengingatkan Daneswara agar jangan lupa menonton film kartun Jepang Naruto yang ditayangkan di salah satu kanal televisi swasta setiap sore.

Rustri mengakui kesibukannya sebagai bupati sempat merampas momen berharganya bersama Hema yang kini telah bisa tengkurap. Saat itu, Rustri tak bisa secara penuh menunggui anaknya, sebulan setelah persalinan.

Suaminya, Soni, tak terlalu banyak mengurus anak-anak itu lantaran hanya berada di Kebumen pada akhir pekan. Sehari-hari, Soni yang pengusaha periklanan berada di Jakarta.

Pukul 08.00 Ruang Tamu Rumah Dinas Bupati

Kabar kemenangan Bibit-Rustri membuat pendukung Rustri girang. Setelah pemilihan, rumah dinasnya ramai didatangi masyarakat yang ingin menyampaikan ucapan selamat, di antaranya pejabat Dinas Sumber Daya Air dan Energi Kebumen dan empat penarik becak yang datang dari Kabupaten Banjarnegara.

Demi memberi ucapan selamat, para penarik becak itu mengayuh becak selama enam jam. “Ini nazar kami jika Bibit-Rustri menang,” ujar Kusmanto, 40 tahun, salah seorang dari mereka.

Bersama Danes, Rustri sempat naik salah satu becak itu dan berkeliling di sekitar rumah dinas bupati. Danes terlihat begitu menikmati “tour de becak” yang berlangsung pagi itu. “Danes mau dibelikan becak kecil?” tawar Rustri yang disambut wajah gembira sang bocah.

Pukul 10.00 Pondok Pesantren Miftakhul Anwar, Kebumen

Dengan sedan bernomor AA-1-D, Rustri mengunjungi Pesantren Miftakhul Anwar yang berulang tahun ke-57. Begitu sampai di sana, ia dikelilingi ibu-ibu yang ingin bersalaman dengannya.

Di pondok pesantren itu, Rustri berkisah tentang liku-liku pencalonannya dalam pemilihan sebagai kepala daerah, terutama soal kampanye hitam dan maraknya selebaran gelap yang memojokkan pasangan Bibit-Rustri. Sebagai pemimpin, kata Rustri, ia menjalankan jabatannya sebagai amanah. Ia mengaku tak punya target akhir dalam berkarier. “Hidup mengalir saja, sambil memanfaatkan setiap peluang.”

Seusai acara, Rustri kembali ke rumah dinasnya. Vokal empuk Opick yang melantunkan lagu-lagu islami berkumandang di dalam kabin mobil. Rustri menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Mungkin ia sedang meresapi syair lagu, atau mungkin juga ada hal lain yang sedang dipikirkannya.

Pukul 12.00 Rumah Dinas Bupati

Sesampainya di rumah, Rustri bukannya langsung makan siang karena jam makan sudah tiba, ia malah mendekati meja kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen. Orang-orang dekatnya mengenal Rustri sebagai orang yang disiplin dengan waktu.

Kekuatan disiplin itu, menurut pengakuan Rustri, dibentuk oleh pendidikan keras ayahnya yang aktivis Partai Nasionalis Indonesia. “Bapak selalu membenturkan kami pada fakta,” katanya. Ia juga mengingat bagaimana ayahnya yang selalu memarahinya jika kalah berkelahi dengan teman perempuannya. “Kalau belum menang, saya nggak boleh pulang.” Itu salah satu pelajaran hidup yang spiritnya dirasakan Rustri sangat berguna ketika sudah menggeluti dunia politik.

Pendidikan politik didapat Rustri setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia bergabung dengan PDIP yang ketika itu mendapat tekanan dari Soeharto. “Satu hal yang tak pernah bisa saya lupakan saat tekanan rezim Orde Baru adalah saya selalu ingat lagu Jatuh Bangun-nya Kristina.”

Pukul 15.00

Rustri telah merampungkan di pekerjaan kantornya. Setelah mandi dan salat asar, ia menemui pendukungnya dari Wonosobo yang mengaku eksponen 1996. Mereka adalah sahabat-sahabat Rustri saat PDIP baru saja terbentuk.

Teman-teman Rustri bercerita, kemenangan Rustri di Kebumen selain karena hasil kerja mesin partai, juga lantaran sosoknya yang mudah “dijual”. Saat kampanye, kata mereka, slogan seperti “Coblos Kudunge (kerudungnya)” dan “Pilih yang Paling Cantik” dapat diterima pemilih perempuan.

Rustri juga tak menampik, faktor gender cukup mempengaruhi kemenangannya. Menurut dia, dirinya dipilih karena, sebagai perempuan, dia dipandang lebih mengerti kebutuhan kaumnya. “Katanya, calon perempuan ngerti kebutuhannya wong wedhok (orang perempuan).”

Obrolan dengan Rustri tersela oleh Hema yang terbangun dari tidur siang.

Sore itu, Rustri sendiri yang memandikan bocah itu. Ia lama tidak melakukannya, terutama saat sibuk mempersiapkan pencalonan wakil gubernur bulan lalu. “Saya sudah lupa kapan terakhir memandikan Hema,” ujarnya sambil memandangi bayi itu. Selepas pemilihan, banyak waktu luang yang dimanfaatkannya bersama anak-anak.

Setelah memandikan, ia mengenakan baju pada Hema. Rustri terlihat kerepotan. “Mungkin kalau ikut lomba, saya pasti kalah,” katanya sembari tertawa kecil.

Tempo melihat, ibu calon wakil gubernur ini malah lupa mengenakan celana dalam untuk sang bocah.

Setelah Hema, giliran dua anak lelakinya yang ditemaninya, tapi itu tak lama, karena kemudian pengurus PDIP Kebumen berkumpul di rumah dinasnya. Mereka membahas kepemimpinan setelah Rustri menjadi wakil gubernur dan pindah ke Semarang.

Pukul 23.00

Rapat partai selesai menjelang tengah malam. Sebelum tidur, Rustri menengok anak-anaknya yang telah lelap. Tak lupa ia menyiapkan termos dan susu untuk Hema yang biasanya menangis karena haus saban dua jam. ARIS ANDRIANTO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: