Skip navigation

Cuaca buruk yang melanda perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah, membuat pasokan ikan minim. Akibatnya, ekspor hasil laut, seperti ikan tuna dan udang, dari Cilacap terhenti.

Semakin banyaknya perburuan ikan hiu di laut menjadi salah satu penyebab kelangkaan ikan di perairan Indonesia.

Cuaca buruk yang melanan selatan Cilacap, Jawa da perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah, membuat pasokan ikan minim. Akibatnya, ekspor hasil laut, seperti ikan tuna dan udang, dari Cilacap terhenti.

“Stoknya kosong sama sekali. Tidak ada nelayan yang memasok ikan lagi,” kata eksportir hasil laut Cilacap, Sudirwan Kadamilah, setelah mengikuti diskusi yang digelar WWF Indonesia di Cilacap kemarin.

Diskusi yang mengambil tema penurunan produksi ikan laut itu juga dihadiri lembaga swadaya masyarakat Taka dan sejumlah kepala dinas di Cilacap. Selain itu, beberapa kelompok nelayan mengikuti diskusi tersebut. Sudirwan mengatakan, akibat kosongnya pasokan ikan dari nelayan Cilacap, dia terpaksa mendatangkan ikan dan udang dari Pantai Utara Jawa. Padahal sesungguhnya kekosongan ikan tidak hanya terjadi di Cilacap, tapi juga hampir di semua pesisir selatan Jawa.

Saat ini, kata Sudirwan, ia hanya bisa mengirim ikan ke luar negeri paling banyak 35 ton. Padahal sebelumnya keuntungan harian dari mengekspor ikan bisa mencapai Rp 200 juta.”Saat ini paling banyak Rp 10 juta per hari,”kata dia.

Selain itu, kata Sudirwan, sejak 2006, hasil produksi ikan di perairan selatan Jawa memang terus menu run. Jika pada 2006 hasil tangkapan nelayan bisa mencapai 650 ton, pada 2010 hanya 291 ton.

Abdullah Habibi, Capture Fisheries Coordinator WWF Indonesia, mengatakan turunnya jumlah ikan di perairan Indonesia, satu di antaranya, disebabkan oleh semakin banyaknya perburuan ikan hiu di laut.
“Mereka ini predator puncak yang sangat penting dalam rantai makanan,”kata dia.

Tingginya permintaan sirip hiu di pasar, disebut Abdullah, sebagai salah satu faktor semakin sedikitnya jumlah hiu di laut. Menurut dia, ikan hiu yang ditangkap nelayan sedikitnya 70 persen terjaring secara tidak sengaja. Sementara itu, salah satu pengusaha pemburu ikan hiu di Cilacap, Ngatiyem, mengatakan sudah tiga tahun terakhir ini hasil tangkapan ikan hiu memang menurun tajam.
“Dulu di dekat pantai masih ada hiu. Tapi sekarang ini kami harus mencarinya hingga perbatasan Pulau Christmas, Australia,”kata dia.

Kini bukan hanya hiu yang susah dicari, Ngatiyem menyebutkan, tapi juga beberapa jenis ikan lain, di antaranya ikan tongkol, cakalang, dan layur. Dia menyebutkan, penggunaan pukat harimau oleh nelayan daerah lain menjadi penyebab turunnya hasil tangkapan, selain faktor cuaca.

ARIS ANDRIANTO

Tuntutan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Purbalingga, agar buku tentang Presiden Susilo BambangYudhoyono ditarik dari sekolah-sekolah, tidak diindahkan dinas pendidikan setempat. Atas sikap itu, DPRD mengancam akan menggelar rapat untuk meminta keterangan Dinas.

“Jika mereka menolak menarik buku itu, kami akan mengagendakan rapat untuk meminta pertanggungjawaban dinas pendidikan,”ujar anggota Komisi C DPRD Purbalingga, Catur Satyo Utomo, di ruang kerjanya kemarin.

Kalangan anggota Dewan menilai buku SBY sebagai bacaan yang terlalu berat untuk murid SD dan SMP.”Saya tanya anak SMA saja, mereka mengaku tidak memahami, apalagi ini untuk anak SD dan SMP,” kata Catur. Dia mengaku keberatan jika Dana Alokasi Khusus digunakan untuk mencetak buku itu. “Kalau ingin buat buku, cetak sendiri dari uang sendiri dan dibagikan ke konstituen, jangan ke murid SD.”

Menanggapi hal ini, Ketua Panitia Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Purbalingga Subeno menegaskan, Dinas Pendidikan Purbalingga tidak akan menarik buku tersebut.”Pengadaan buku ini tidak melanggar hukum, jadi kami tidak akan menariknya,”ujarnya.

Subeno menjelaskan, buku yang menjadi perbincangan masyarakat tersebut sudah lolos seleksi dari Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Ia menambahkan, buku tersebut kini menjadi koleksi perpustakaan di 97 sekolah dasar dan 55 sekolah menengah pertama.

Selain buku tentang SBY, Subeno menambahkan, ada buku-buku lainnya, di antaranya buku mengenai Sukarno, yang berjumlah 10 buku. Selain itu, ada buku tentang sertifikasi guru yang bisa dibaca oleh guru. “Perpustakaan kan bukan hanya untuk murid, siapa saja bisa membaca di perpustakaan,” ujarnya.
Dia tidak sepakat dengan Catur bahwa buku tentang SBY merupakan bacaan yang terlalu berat untuk murid-murid SD.

ARIS ANDRIANTO

undefined

undefinedread more…

Perajin rambut palsu mulai kehilangan pasar asing karena krisis global. Mereka pun dituntut lebih kreatif, mengembangkan pasar domestik
R uangan berukuran 10 x 20 meter itu berantakan. Untaian rambut berserak di mana-ma na. Lantai keramik putih tertutup helaian rambut yang berserakan, entah potongan rambut siapa. “Kerajinan kami memang semuanya dari limbah,” ujar Ngudiyono, perajin rambut palsu di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, kemarin.

Menurut pria 50 tahun ini, kerajinan rambut palsu di desa tersebut memang memanfaatkan limbah, baik yang sintetis maupun rambut asli. Dari limbah tersebut, diproduksilah wig (rambut palsu), bulu mata palsu, rambut untuk hair extension, sanggul, cemara, dan lain-lain.

Para perajin mendapatkan limbah rambut dari salon kecantikan, juga dari pemulung. Sebelum krisis global yang saat ini masih terjadi, bahan baku rambut tersebut dihargai Rp 400 ribu per kilogram “Sekarang bahan baku sedang murah, kami membelinya Rp 280 ribu per kilogram,” kata Ngudiyono, yang mengaku hanya lulusan sekolah dasar.

Setiap bulan mereka bisa menghabiskan 5 ton bahan baku rambut. Untuk masalah bahan baku, mereka tak pernah kesulitan.

Namun, kini rupanya mereka harus menghadapi kesulitan: mencari pasar. “Selama ini mereka menjual produknya kepada kami. Sedangkan pesanan saat ini sedang turun hingga 50 persen,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Purbalingga, Saryono.

Seorang perajin lain, Eko Setiawan, menyatakan selama ini tidak semua perajin memproduksi rambut palsu hingga proses penyelesaian akhir. Pria 28 tahun ini mengatakan, di antara 200 perajin rambut palsu di Karangbanjar, hanya lima perajin yang mampu membuat rambut palsu hingga proses akhir. Sisanya hanya membuat barang setengah jadi atau disebut perajin plasma. Mereka inilah yang selama ini menjual produknya ke perusahaan Korea Selatan. “Saat ini perusahaan Korea sedang kesulitan ekspor, perajin jadi terkena imbasnya,” kata Eko.

Dulu, sebelum krisis, kata Eko, perajin setengah jadi mampu memproduksi satu ton tiap bulannya. Sekarang mereka hanya memproduksi tiga kuintal saja. Itu pun jika ada pesanan.

Menurut Eko, setidaknya ada 26 ribu perajin plasma di Purbalingga, dan mereka terancam kolaps karena selama ini hanya mengandalkan perusahaan Korea untuk menam pung produksi mereka.

Namun, perajin seperti Ngudiyono, yang non-plasma atau produksi barang jadi, tak begitu terpengaruh oleh krisis global ini. “Selama ini kami memang fokus menggarap pasar lokal. Pasar ekspor hanya sampingan,” kata perajin yang mengaku gemar membaca buku-buku motivasi tersebut.

Menurut spesialis pembuat sanggul, Imam, untuk pasar domestik, selama masih ada orang menikah, usahanya tak bakal gulung tikar. “Justru sekarang sedang bergairah, karena bahan baku sedang murah,” katanya.

Para perajin mengaku optimistis kerajinan mereka bisa bertahan dari terpaan badai krisis. Saat ini mereka hanya mengeluhkan susahnya mendapatkan modal dari dunia perbankan. “Padahal omzet saya dalam sebulan bisa mencapai Rp 200 juta,” kata Ngudiyono.

Terkait dengan permasalahan yang dihadapi perajin rambut dan bulu mata palsu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Purbalingga mengatakan akan membantu perajin plasma lepas dari kebangkrutan. Ia membe narkan, sepinya usaha rambut palsu saat ini karena terpengaruh pasar perusahaan Korea yang sedang lesu. “Pertama yang akan kami lakukan adalah menyelamatkan perajin mikro dan plasma yang jumlahnya ribuan,” katanya.

Selain itu, menurut Saryono, Asosiasi Pengusaha Indonesia Purbalingga akan berusaha mencari pasar baru.

K erajinan rambut palsu di Purbalingga merupakan usaha turuntemurun. Perajin sekarang meru pakan generasi ketiga. Menurut seorang perajin, Ngudiyono, kerajinan rambut palsu pertama kali populer di Desa Karangbanjar pada sekitar tahun 1970. Saat itu mereka membuat rambut palsu setengah jadi yang diekspor ke luar negeri. “Saat itu, dengan modal Rp 1 juta, bisa mendapatkan hasil Rp 20 juta,” kata Ngudiyono.

Adalah trio perajin, Sunarji, Hadi Martoyo, dan Guderi, yang mulai merintis kerajinan tersebut. Ketiganya kondang sebagai perajin yang sukses pada zamannya.

Kerajinan rambut palsu Purbalingga sempat mati suri selama 10 tahun. Penyebabnya, kata Ngudiyono, di dunia mulai banyak kompetitor yang menawarkan produk sejenis dengan harga lebih murah.

Pada awal 1980-an usaha mereka bangkit kembali. “Saya termasuk perajin generasi kedua yang mulai membangun usaha ini lagi,” ujar Ngudiyono.

Dengan modal Rp 22.500, ia bersama Surip dan Imam mulai merintis usaha turun-temurun itu. Berkat kerja keras dan ketelatenan, usaha itu pun mulai menggurita. Saat ini sedikitnya 26 ribu perajin ikut terlibat dalam usaha padat karya tersebut.

Pada 1985, pengusaha Korea mulai masuk Purbalingga setelah mendengar kualitas kerajinan rumahan rambut palsu Purbalingga tergolong baik. Saat ini setidaknya ada 18 perusahaan asing yang beroperasi di Purbalingga.

Eko Setiawan, 28 tahun, termasuk generasi ketiga perajin rambut palsu. Meski hanya lulusan SMA, ia rajin berselancar di Internet untuk melihat tren mode rambut dunia dan harga pasarnya. “Jika ada mode terbaru, saya butuh waktu 3-4 bulan untuk membuatnya,” katanya.

Pada 2006, usaha Eko pernah maju pesat. Gara-garanya, saat itu mode rambut sedang jadi tren dengan penyanyi Krisdayanti yang menggunakan rambut palsu. “Saat itu produk luar harganya mencapai Rp 280 ribu. Kami berani jual Rp 80 ribu,” ia menambahkan.

Eko mengatakan usahanya bisa tetap bertahan karena terus menciptakan kreasi baru. Selain itu, dunia maya dikatakannya banyak membantu usahanya. “Jelas generasi kami berbeda dengan generasi ayah saya,” ujarnya.

ARIS ANDRIANTO

Segara Anakan Terancam Musnah

— Laguna Segara Anakan
terancam musnah. Sedimentasi Su-
ngai Citanduy, yang terletak di anta-
ra perbatasan Jawa Barat dan Jawa
Tengah, dituding menjadi biang ke-
ladi di kawasan konservasi ters…read more…

Warga Banyumas menemukan pompa air bertenaga air. Ia mendapat penghargaan dua pekan lalu. Tanpa listrik, pompa bisa menyemburkan air hingga ketinggian 300 meter.

DARI koleksi perpustakaan desa, Sudiyanto menemukan buku teknologi terapan itu. Berjudul Pompa Air Tenaga Air—kitab aslinya berbahasa Belanda—isi buku itu tiba-tiba saja mencerahkan benak Yanto. Ia berpikir, apa salahnya mencoba membuat pompa seperti dalam buku itu untuk mengatasi krisis air di desanya.

Desa Grumbul Glempang tempat ia tinggal, juga Desa Kotayasa di Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah, sedang paceklik air. Warga desa harus berjalan kaki ratusan meter menuruni lereng untuk mendapatkan air dari Sungai Lumarapi atau sumber mata air Tuk Sladan, yang dulunya disebut Tuk Begu. Desa Kotayasa malah terletak jauh di ketinggian Gunung Slamet (3.450 meter), sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut.

Warga bukannya tak pernah mencoba membuat sumur. Meski sudah digali hingga 25 meter, air yang keluar amat sedikit. Bahkan pada musim kemarau sumur tak berair sama sekali. Untuk berlangganan air dari perusahaan daerah air minum, kebanyakan warga merasa tak mampu. Jarak Desa Kotayasa dengan kota terdekat, Purwokerto, juga cukup jauh: sekitar 17 kilometer.

Kondisi inilah yang membuat pengurus Karang Taruna Desa Grumbul itu tergerak membuat pompa air bertenaga air. Dalam buku tersebut dijelaskan secara terperinci bagaimana mengalirkan air dari lokasi rendah ke tempat yang lebih tinggi. Cara pembuatannya pun cukup sederhana, yakni dengan memanfaatkan teknologi hydraulic ram (hydram). Sayang, dalam buku itu tertulis pompa hanya mampu mengalirkan air setinggi tujuh meter. Sedangkan sungai atau sumber air di Desa Kotayasa jaraknya mencapai ratusan meter.

Tanpa dasar pengetahuan mekanika fluida, Yanto tetap nekat mencoba. Kendala pertama yang dihadapi: ia tak punya modal. Beruntung, saudara-saudaranya mau meminjamkan uang Rp 5 juta untuk membeli bahan yang diperlukan.

Pada awalnya Yanto mengaku telah mengikuti semua prosedur yang ditulis dalam buku. Setelah peralatan terpasang, ia mengalirkan air ke dalam pompa tapi air tak mau menyembur. ”Sepuluh kali gagal. Selama sekitar dua tahun saya terus mengutak-atik pompa air tersebut,” ucap ayah lima anak lulusan aliyah ini. ”Banyak tetangga menganggap saya gila waktu itu.”

Tak patah arang, lelaki yang kini berusia 41 tahun itu terus berupaya memperbaikinya. Pada suatu saat sebuah ketidaksengajaan terjadi. Pompa hydram buatannya bocor. Tapi kebocoran itu justru membuat aliran air kian deras. Seperti mendapat angin segar, Yanto memodifikasi pompa air tersebut dengan membuat beberapa lubang. Hasilnya, air mampu menyembur setinggi 18 meter, lebih tinggi dari yang tertulis di buku. Air bahkan bisa menjangkau ketinggian 300 meter. ”Saya langsung berteriak seperti orang gila. Ternyata percobaan saya tak sia-sia,” ucapnya.

Mulanya Yanto hanya membuat saluran pipa air khusus ke rumahnya. Jarak ketinggian antara sumber air dan rumahnya 315 meter. Tetangganya yang dulu mencemooh kini ikut menikmati air hasil pompa hydram buatannya. Agar warga mudah memperoleh air bersih, dibuatlah sebuah bak penampungan. Pada musim kemarau, warga Desa Kotayasa tak lagi kekurangan air bersih.

Pompa air tenaga air buatan Yanto ini akhirnya terdengar hingga melampaui batas Desa Kotayasa. Panitia Indonesia Berprestasi Award (IBA) 2008 menangkap informasi tersebut. Indonesia Berprestasi adalah suatu kompetisi prestasi yang diselenggarakan PT Excelcomindo Pratama Tbk., salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Salah satu kategori yang dilombakan adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Di kategori ini, temuan Yanto didaftarkan.

”Kami memilih mereka yang mampu membangkitkan semangat anggota masyarakat lain, sekecil apa pun prestasi yang dibuat oleh orang tersebut,” ucap Adrie Subono, salah satu anggota dewan juri. ”Dengan semangat yang tertular, akan muncul multiplier effect yang menciptakan orang-orang berprestasi lain bagi lingkungannya,” Adrie menambahkan.

Setelah melalui verifikasi ketat, pompa air tenaga air buatan Yanto dinyatakan sebagai pemenang di Jakarta dua pekan lalu. Menurut dewan juri, teknologi pompa air tersebut amat aplikatif dan memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat yang hidup di pegunungan. Di putaran final ia mengalahkan seorang profesor yang membuat teknologi listrik tenaga surya. ”Lumayan juga, orang tak berpendidikan mengalahkan profesor,” kata Yanto sembari tertawa lebar.

Mekanisme kerja pompa buatan Sudiyanto cukup sederhana. Air dari sumber air ditampung dalam sebuah bak dengan ketinggian sekitar lima meter. Air dialirkan ke tempat yang lebih rendah menggunakan pipa. Dengan kemiringan tertentu air tersebut dialirkan ke hydram. Setelah masuk ke hydram, disemburkan ke atas atau ke tempat penampungan air di sekitar perkampungan penduduk. Semua proses tak membutuhkan bahan bakar minyak maupun listrik.

Prinsip kerja pompa air tersebut adalah memanfaatkan daya dorong air dari ketinggian tertentu untuk menaikkan kembali air tersebut. Kemiringan antara air turun, pompa, dan air naik juga menjadi faktor penting. ”Ini yang saya belum tahu rumus fisikanya,” ujar Yanto terus terang. Ia berharap ada ahli atau konsultan yang bisa membantunya menemukan rumus fisika tersebut.

Hydram dibuat dari pipa galvins. Terdiri atas pipa input (tempat air masuk), pompa, dan pipa output. Di dalam pompa (berbentuk tabung berdiameter 40 sentimeter), ada klep yang terbuat dari potongan ban bekas. Fungsinya mengatur komposisi udara dan air yang akan dimampatkan ke saluran output. Komposisi yang pas antara udara dan air inilah yang menjadikan air bisa terdorong ke atas. Semakin terjal atau semakin tinggi air dialirkan, semakin kuat pula daya dorongnya.

Setelah sukses membuat desanya berkecukupan air, Yanto kini terobsesi membantu desa lain yang memiliki masalah serupa. Di depan rumahnya, teras berukuran 2 x 3 meter persegi menjadi bengkel pembuatan pompa hydram. Namun hingga kini hasil karyanya belum dipatenkan. Penyebabnya, ya itu tadi, ia belum tahu rumus fisika temuannya. Penjelasan mekanika fluida yang logis memang diperlukan lembaga paten untuk temuan Yanto.

Sembari menanti uluran tangan ilmuwan yang mau membantunya, ia mulai menerima pesanan pompa hydram dari daerah lain seperti dari Tegal dan Purbalingga. Untuk pompanya saja, ia menjual Rp 1,5 juta. Untuk pipa berukuran 1 dim ia memasang harga Rp 2,5 juta dan ukuran 2 dim dikenai tarif Rp 3,5 juta. Jasa borongan atau pembangunan satu unit juga bisa dia kerjakan, dengan ongkos Rp 25 juta. ”Saya tak mengambil untung banyak, kok,” ujarnya. ”Ini lebih ke proyek sosial. Yang penting banyak warga menikmati temuan saya.”

Firman Atmakusuma, Aris Andrianto (Banyumas)

MBM Tempo, Edisi: 25/XXXVII 11 Agustus 2008

Harga Darah Naik, Kualitas Darah Turun

— Dampak dari pen-
cabutan subsidi pengolahan darah
oleh pemerintah provinsi mulai di-
rasakan oleh Palang Merah Indo-
nesia dan masyarakat. Selain har-
ga darah menjadi mahal, kualitas
darah j…read more…

Sabut kelapa disemprot getah karet jadi kasur dan jok mobil. Pasarnya luas, produksi terbatas.

JANGANKAN ompol anak kecil, ompol orang tuanya pun tidak bakal tersisa. ”Semua bablas wes ewes ewes, keluar langsung ke bawah melalui pori-pori.” Begitulah Haji Karsono mempromosikan dagangannya: kasur dari bahan serat sabut kelapa keriting berkaret alam. ”Tinggal angkat kasur, semprot menggunakan shower, beres,” kata pengusaha asal Cilacap, Jawa Tengah, itu.

Tak mengherankan jika produk buatan pria 68 tahun itu memikat pengunjung pameran Small Medium Enterprise Company yang digelar di Jakarta Convention Center, 30 Juli-3 Agustus 2008. Selama pameran, ia mencatat transaksi senilai Rp 80 juta. Harga produk Karsono memang lumayan mahal. Untuk sebuah bantal, misalnya, Didik, pengunjung dari Cibubur, Jakarta, harus merogoh Rp 125 ribu.

Pak Haji—begitu Karsono akrab disapa—aslinya adalah petani karet. Ia biasa menjual lateks ke pabrik ban. Setiap bulan, dari 10 hektare kebun karetnya, ia bisa memproduksi satu ton lateks yang menghasilkan Rp 27 jutaan. Tapi uang sebesar itu tak cukup bagi pensiunan Dinas Pendapatan Daerah Cilacap itu untuk membiayai sekolah yang dikelolanya. ”Saya punya sekolah gratis,” katanya.

Itu pula yang mendorong Karsono melebarkan sayap. Ia memulai ekspansi usahanya dari sabut kelapa atau biasa disebut penduduk di sana tepes. Karsono melihat tumpukan limbah kopra itu banyak disia-siakan perajin yang tinggal di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, tiga kilometer dari Kota Cilacap. Paling banter, sabut kelapa itu hanya dipakai sebagai pengganti kayu bakar.

Karsono pun menyampaikan persoalan ini ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Cilacap. Pada Desember 2006, ia dan beberapa petani karet dipanggil untuk mengikuti pelatihan membuat produk yang menggabungkan unsur sabut kelapa dan getah karet di Balai Penelitian Teknologi Karet, Bogor, Jawa Barat, selama seminggu.

Begitu pulang, Karsono langsung mempraktekkan ilmu barunya. Secara manual, ia memintal, mengeriting, dan mengeringkan sabut. Hasilnya lantas disemprot dengan lateks yang berfungsi sebagai pengikat sabut. ”Hasilnya, kok ya bagus,” katanya. Sejak itu, Karsono serius nyemplung ke bisnis pengolahan tepes. Ia lalu mengajak tujuh kawan yang dulu kursus ke Bogor membentuk kelompok usaha bersama serat sabut kelapa berkaret, disingkat Sebutret.

Tapi, ada masalah. Karsono tak mungkin mengolah tepes dalam jumlah besar hanya dengan tangan. Ia kemudian mengajukan permohonan bantuan mesin industri kepada Menteri Perindustrian Fahmi Idris melalui Bupati Cilacap Frans Lukman pada 2007. Kebetulan alat-alat itu memang tak dijual di toko. Tak dinyana, Menteri Fahmi setuju. Departemen Industri pun menggelar tender pengadaan peralatan senilai Rp 300 juta.

Pemenang tender diminta berkoordinasi dengan Karsono untuk merakit dan mendesain sembilan jenis mesin, mulai alat pemintal hingga oven. Berbagai mesin itu datang pada akhir 2007. ”Ini hibah, bukan pinjaman,” ujarnya. Dengan peralatan itu, ia bisa menghasilkan 30 meter kubik produk sabut kelapa keriting cetak atau lapik sebulan. Tiap meter kubik produk akhir campuran sabut lateks ini memerlukan 25 kilogram lapik dan 45 kilogram lateks.

Ternyata, permintaan datang bertubi-tubi. Sementara selama ini ia hanya memenuhi permintaan lokal, seperti Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta, belakangan mulai banyak pesanan dari luar negeri, antara lain dari Amerika, Jepang, Korea, dan Cina. Mereka minta dikirim minimal 150 kubik sebulan (setara dengan dua kontainer) senilai sekitar Rp 375 juta (per kubik Rp 2,5 juta).

Karsono pun angkat tangan. Dengan mesin yang ada, usahanya tak mungkin bisa memenuhi semua pesanan itu. Kelompok usahanya akhirnya nekat kembali mengajukan permintaan bantuan ke Departemen Perindustrian. Eh, Menteri Fahmi setuju lagi. ”Denger-denger duitnya sudah cair Rp 400 juta. Sudah ditender.” Mesin baru itu akan menaikkan produksi dua-tiga kali lipat. Ongkos produksi pun bisa ditekan dari Rp 2 juta per kubik saat ini menjadi Rp 1,7 juta.

Jika mesin sudah dikirim, Karsono berharap bisa segera memasok produknya ke luar negeri. Sementara di dalam negeri kebanyakan untuk kasur, pembeli luar negeri memesan untuk jok mobil. Kursi mobil berbahan tepes sebenarnya sudah ada, terutama mobil buatan Jerman. Bedanya, kata Karsono, jok lapik karet alam bikinannya keriting sehingga lebih lentur. Karsono pun tak pusing lagi membiayai sekolahnya.

Retno Sulistyowati, Aris Andrianto (Cilacap)

Tan Malaka membangun Persatuan Perjuangan di Purwokerto. Upaya menyerang politik diplomasi pemerintah.

PURWOKERTO, kota kecil di selatan Jawa Tengah, menyala-nyala. Bintang Merah, bendera Murba, berderet-deret setengah kilometer dari alun-alun kota hingga Societeit, balai pertemuan merangkap gedung bioskop. Tiga ratusan orang memenuhi bangunan itu. Mereka wakil dari 141 organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan laskar.

Nirwan, guru Sekolah Rakyat dan aktivis Murba, mengingat petang itu, 4 Januari 1946, tepat seratus hari pasukan Sekutu mendarat di Jawa. ”Orang berduyun-duyun ke kota ingin menyaksikan tamu yang datang,” ujar pria yang saat itu berusia 16 tersebut.

Rapat politik itu dihadiri antara lain para pemimpin pusat Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia, Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Buruh Indonesia, Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, dan Persatuan Wanita Indonesia. Rakyat jelata berjejal-jejal. Mereka antusias, karena Panglima Besar Jenderal Soedirman juga di tengah-tengah mereka.

Nirwan menuturkan peserta rapat tiba dengan kereta api. Mereka yang tiba dari Purbalingga, Wonosobo, Semarang, Yogyakarta, dan Solo turun di Stasiun Timur. Adapun peserta dari Jawa Barat turun di Stasiun Raya, kini stasiun di kota itu. Para kader Murba dari daerah dengan sukarela menyumbang pelbagai barang: sekadar beras atau gula merah. Tak hanya untuk konsumsi rapat, barang-barang yang terkumpul dijual untuk keperluan lain.

Murba ketika itu belum menjadi partai, melainkan gerakan rakyat jelata. Tan Malaka menggagasnya buat melawan kapitalisme dan penjajahan serta untuk menggapai kesejahteraan. Purwokerto dianggap merupakan basis kuat, karena itu Tan memilihnya untuk tempat kongres para pemimpin berbagai organisasi.

Di kota ini, Tan bersahabat kental dengan Slamet Gandhiwijaya. Tokoh Murba Purwokerto ini menjadi penyandang dana terbesar. Dari Slamet pula Nirwan mengenal sosok Tan Malaka. ”Slamet menjual sawah untuk biaya kongres,” kata Nirwan, yang menjadi Ketua Agitasi dan Propaganda setelah Tan mendeklarasikan Partai Murba pada November 1948.

Slamet pernah dibuang ke Digul karena aktif di gerakan kiri menentang Belanda. Saat pendudukan Jepang, pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 1901 ini dipercaya memimpin sejumlah proyek pembangunan, seperti jalan dan waduk. Belum semua proyek rampung, Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Jepang kalah dan lari dari daerah pendudukannya di Asia Timur, termasuk Indonesia. Ketika Jepang menyingkir dari Jawa, menurut peneliti dan penulis buku tentang Tan Malaka, Harry A. Poeze, koper Slamet masih penuh uang. Duit ini yang dipakai untuk biaya gerakan politik.

Slamet tinggal di dekat Stasiun Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Banyumas, 10 kilometer dari Kota Purwokerto. Dulu, perusahaan kereta api Belanda, Serajoedal Stoomtram Maatschappij dan Serajoedal Staatspoor, mengoperasikan kereta api Cilacap-Stasiun Raya Purwokerto-Gombong yang melalui Kedungrandu. Jalur ini melintas di dekat aliran Sungai Serayu. Tapi pada 1936, dua perusahaan itu bangkrut.

Ada tiga rumah bekas petinggi perusahaan kereta api Belanda di Kedungrandu. Satu di antaranya ditempati keluarga Slamet. Di kiri-kanan rumah Slamet terhampar sawah. Di kejauhan tampak bukit-bukit hijau. Rumah Slamet menghadap ke utara, berpagar pohon petai cina. Di belakang rumah mengalir Kali Pematusan, sekaligus pembatas rumah dengan sawah. ”Dulu saya suka memetik klandingan (petai cina) di situ,” ungkap Nasirun, 66 tahun, tetangga Slamet.

Rumah berarsitektur Belanda ini telah dilengkapi telepon dan garasi mobil. Darmuji, 76 tahun, penduduk setempat, mengenal Slamet sebagai priyayi terpandang dan kaya di Patikraja. Orang kebanyakan, termasuk Darmuji, umumnya takut bertamu. ”Saya dan Den Slamet kan beda,” katanya.

Ketika pergi ke Purwokerto, Tan selalu menginap di sini. Di rumah ini pula Tan bertemu dengan Soedirman sebelum kongres. Slamet dan istrinya, Martini, memanggil Tan dengan sebutan Ohir. Mungkin diambil dari bahasa Belanda, ouheer, yang bermakna orang tua. Perintis Gunawan, 49 tahun, anak Slamet yang kini tinggal di Cireundeu, Tangerang, mendapat kisah ini dari ibunya.

Jika mendengar kabar mata-mata musuh mencari, Tan segera bersembunyi di perbukitan. Martini lihai merahasiakannya. ”Kalau Tan lari ke selatan, ibu saya bilang larinya ke utara,” kata Perintis. Rumah Slamet dijaga Nero, anjing peliharaan. Ada juga kolam ikan. Di sini ada ikan yang dinamai Yopi. ”Jika tangan Tan menaburkan pakan, Yopi langsung menyaut,” kata Perintis, mengingat kisah dari ibunya. Martini, yang kelahiran Purwokerto, 5 Oktober 1920, adalah aktivis perempuan Muhammadiyah, Aisyiah. Ia meninggal November tahun lalu.

Rumah Slamet sejak 1977 menjadi gedung Koperasi Unit Desa Patikraja. Memang, ia telah mengosongkan rumah itu seusai Agresi Belanda II pada Desember 1948. Ia membangun rumah di atas tanah milik sendiri, satu kilometer dari rumah lama. Slamet mengembalikan rumah lama kepada negara. Sejak itu rumah tidak dirawat. Kayu lapuk dan tembok ambrol. Kini, di atasnya berdiri bangunan baru sejumlah rumah. Bekas Stasiun Kedungrandu dibeli Si Kuan, pengusaha setempat, untuk penggilingan padi, yang hingga kini bertahan.

Di rumah baru, Slamet membuka usaha furnitur. Martini menekuni industri rumah kain batik. Slamet menempati rumah ini hingga ia meninggal 4 September 1966. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Nirwana, Purwokerto, sebagai perintis kemerdekaan. Kini, meja dan kursi tempat Tan berdiskusi dengan Soedirman sambil makan masih terawat. Meja kayu jati bulat telur itu semula hitam. Pelitur ulang mengubahnya menjadi cokelat.

Gedung pertemuan tempat Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto itu sejak 1964 hingga kini menjadi gedung Radio Republik Indonesia di Jalan Jenderal Soedirman. Menurut Soegeng Wijono, 70 tahun, ahli sejarah ekonomi Purwokerto, gedung itu beberapa kali berubah nama. Pada zaman Belanda bernama Societeit. Jepang masuk berganti nama Gedung Asia Bersatu. Setelah Republik berdiri, disebut Balai Prajurit. ”Tapi orang-orang tua lebih suka menyebutnya Societeit,” kata Soegeng.

Untuk menuju Societeit, tempat kongres, Tan berangkat dari rumah Slamet menggunakan mobil yang ia bawa dari Yogyakarta. Banyak peserta kongres belum mengenal Tan. Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta terbitan 6 Januari 1946, seperti ditulis Harry A. Poeze dalam bukunya, menggambarkan peserta rapat terdiam menahan napas menyambut Tan naik podium.

Koran Indonesia saat itu umumnya terbit hanya dua halaman. Jarang sekali koran menulis gambaran suasana. Kedaulatan Rakyat melaporkan:

Umur beliau lebih dari 50 tahun. Tetapi kelihatannya lebih muda. Badan beliau tegap, sehat, kuat, muka tampak segar. Mata agak kecil tapi tajam. Melihat kerut-kerut wajah beliau, maka kelihatanlah dengan nyata karakter beliau yang kukuh, kuat, dan berdisiplin. Pakaian sederhana. Berkemeja dan bercelana pendek dan berkaos kaki panjang.

Nuansa ketidakpuasan menyelimuti kongres. Para peserta tak sepakat dengan langkah diplomasi Soekarno-Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir. Tan geram dengan para pemimpin yang tak bereaksi atas masuknya Sekutu ke Indonesia.

Tan mengajukan tujuh pasal program minimum: berunding untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen, membentuk pemerintah rakyat, membentuk tentara rakyat, melucuti tentara Jepang, mengurus tawanan bangsa Eropa, menyita perkebunan musuh, dan menyita pabrik musuh untuk dikelola sendiri.

Menurut Tan, kemerdekaan 100 persen merupakan tuntutan mutlak. Sesudah musuh meninggalkan Indonesia, barulah diplomasi dimungkinkan. Tan bertamsil: orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya. ”Selama masih ada satu orang musuh di Tanah Air, satu kapal musuh di pantai, kita harus tetap lawan,” katanya.

Jenderal Soedirman tak kalah garang. Ia berpidato di kongres: ”Lebih baik diatom (dibom atom) daripada merdeka kurang dari 100 persen.” Para peserta kongres akhirnya sepakat membentuk Persatuan Perjuangan.

Persatuan kemudian dideklarasikan di Balai Agung, Solo, pada 15 Januari 1946. Kongres Solo disebut Kongres I Persatuan Perjuangan. Dibuka pukul 10 pagi, kongres ini dihadiri 141 organisasi. Panitia mengundang Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan anggota kabinet. Tapi, yang datang hanya Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, Jaksa Agung Gatot Taroenamihardjo, dan Panglima Besar Soedirman. Sultan Yogya dan Susuhunan Solo mengirimkan wakil mereka. Peserta menginap di Hotel Merdeka, Solo.

Setelah bendera oposisi dikibarkan di Purwokerto, Tan ditangkap. Ia lalu dipenjarakan di sejumlah tempat: Wirogunan Yogyakarta, Madiun, Ponorogo, Tawangmangu, dan Magelang.

Ketika Tan dipenjara di Wirogunan pada 1946, anak muda Murba bernama Anwar Bey, kini 79 tahun, besuk bersama Abdullah, guru Meer Uitgebreid Lager Onderwijs Adabiyah Padang, juga orang Pari—Partai Republik Indonesia. Anwar kelak menjadi wartawan Antara dan Sekretaris Wakil Presiden Adam Malik. Mereka diutus pemuda Sumatera Barat. Perjumpaan itu cuma setengah jam dan mereka tak banyak bicara karena diawasi sipir pendukung Hatta. ”Tan hanya bilang teruskan perjuangan,” kata Anwar.

Konferensi itu sebenarnya direncanakan berlangsung di Malang, Jawa Timur, Desember 1945. Ketika itu, laskar dan tentara meninggalkan Surabaya setelah pertempuran 10 November 1945. Tapi, karena banyak wakil berada di Jawa Barat dan Jakarta, konferensi dimundurkan. Tan ke Cirebon menemui wakil-wakil organisasi dari pelbagai daerah. Selanjutnya, untuk pertama kalinya Tan bertemu dengan wakil organisasi dari kota-kota di Jawa pada 1 Januari 1946 di Demakijo, Godean, Yogyakarta. Mereka sepakat bertemu di Purwokerto.

Kelak, pertemuan Purwokerto diakui memberikan sumbangan besar. Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.

Tan Malaka dan Jenderal Soedirman sama-sama menentang diplomasi. Renggang setelah peristiwa Wirogunan.

SLAMET Gandhiwijaya adalah aktivis Murba. Ia tinggal di rumah besar di dekat stasiun Kedungrandu, 10 kilometer dari Purwokerto, Jawa Tengah. Tan Malaka kerap datang sembunyi-sembunyi ke rumah itu. Di sana, dia kemudian bertemu dengan para tokoh Persatuan Perjuangan.

Beberapa kali sepanjang tahun 1946, Tan datang khusus untuk menemui Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, Jenderal Sudirman. Perintis Gunawan, putra bungsu Slamet—kini 49 tahun—mendapat cerita pertemuan kedua tokoh itu dari ibunya, Martini.

Setiap datang ke rumah itu, Soedirman selalu lebih dulu mencari Herman, sepupu Perintis. Sang Jenderal lalu menimang-nimang bocah itu sebelum masuk ke ruang makan. Di situ ia bertemu dengan Tan. ”Ibu langsung disuruh keluar. Dia tidak boleh mengikuti pertemuan,” kata Perintis.

Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang banyak menulis buku tentang Tan, mengatakan kedua tokoh itu berhubungan dekat. Mereka bertemu pertama kali dalam Konferensi Persatuan Perjuangan di Purwokerto, Januari 1946. ”Mereka mempunyai persamaan pendapat dan ideologi,” katanya.

Adam Malik, dalam buku Mengabdi Republik Jilid II: Angkatan 45, bahkan menyebut Tan dan Soedirman sebagai ”dwitunggal”. Ia menyamakan hubungan kedua tokoh dengan relasi Soekarno-Hatta serta Sutan Syahrir-Amir Syarifuddin. Adam menilai Tan dan Soedirman memiliki urat dan akar di kalangan pemuda radikal, anggota pasukan Pembela Tanah Air, dan bekas romusha. ”Di bawah pimpinan Tan dan Sudirman, para pemuda itu menyerang pos dan kubu pertahanan Jepang,” Adam menulis.

Keduanya juga diikat kesamaan sikap: menentang jalan diplomasi pemerintahan Sutan Syahrir. Bagi mereka, ”kemerdekaan harus seratus persen” dan ”berunding berarti kemerdekaan kurang dari seratus persen”.

Jalan oposisi Tan berbuah penjara. Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin memerintahkan penangkapannya. Pada 17 Maret 1946 beserta beberapa pemimpin Persatuan Pergerakan, dia diringkus di Madiun, Jawa Timur. Tan dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta. Dua belas pemimpin Barisan Banteng ditangkap dua bulan kemudian.

Soedirman tidak tinggal diam. Ia memerintahkan Panglima Divisi III Mayor Jenderal Sudarsono membebaskan semua tahanan pada 3 Juli 1946. Dengan perintah ini, Sudarsono dan pasukannya menyerbu penjara Wirogunan. Aksi ini membuat marah Presiden Soekarno. Ia memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, penanggung jawab keamanan Yogyakarta—kelak menjadi presiden—agar menangkap Sudarsono.

Setelah peristiwa ini, hubungan Tan dan Soedirman merenggang. Soedirman menganggap koleganya terlalu jauh menekan Soekarno. Menurut Harry Poeze, Soedirman juga tidak setuju dengan langkah Tan membantu laskar rakyat yang secara politik bertentangan dengan tentara.

Adam Malik menulis, Presiden Soekarno berhasil meyakinkan Jenderal Soedirman untuk meninggalkan Tan. Sebagai balasan, ia mendukung penuh semua keputusan Sudirman sebagai panglima besar tentara. Sejarah mencatat, Tan dan Soedirman kembali ke jalan gerilya setelah Agresi Militer Belanda II pada 1948.

Dalam agresi itu, Belanda menangkap Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, dan para pejabat pemerintah. Mereka diasingkan ke Bangka. Sudirman lolos dari sergapan Belanda dan masuk hutan. Ia bergerilya di Jawa Tengah.

Tan berangkat ke Kediri dengan kereta api khusus, dikawal 50 orang. Ia bergabung dengan satu brigade Divisi IV Tentara Nasional Indonesia pimpinan Sabarudin di Blitar, Jawa Timur. Di markas pertahanan Desa Belimbing, Kediri, ia mendirikan Gabungan Pembela Proklamasi yang kemudian menjadi Gerilya Pembela Proklamasi.

Ia banyak menulis pamflet yang dia beri nama ”Dari Markas Murba Terpendam”. Lewat RRI Kediri, Tan menyerukan rakyat terus bergerilya melawan Belanda seperti Soedirman.